cbcpos.com Meranti – kerja sama pemerintah daerah dan swasta serta komitmen yang kuat sangat dibutukan dalam pemerataan akses layanan kesehatan melalui pemenuhan penunjang, seperti rumah singgah bagi masyarakat yang membutuhkan di kota Pekanbaru
Temukan lebih banyak
“Bagaimana kita dihadapkan pada situasi munculnya ketimpangan akses pelayanan yang menjadi hambatan dalam proses pengobatan .
Beban masyarakat, Mr x bukan sekadar biaya pengobatan, sehingga kehadiran rumah singgah yang ada bisa membantu dan meringankan masyarakat yang membutuhkan serta di setiap layanan kesehatan juga sangat membantu.
Upaya mendesak pemangku kebijakan untuk mewujudkan layanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat melalui ketersediaan rumah singgah yang terjangkau, tegas Mr x sangat penting.
Kesenjangan pelayanan itu, jelas Mr.x diakibatkan keterbatasan rumah sakit dengan fasilitas yang memadai bagi masyarakat termasuk rumah singgah.
Catatan Kementerian Kesehatan RI, di Indonesia hanya terdapat 714 unit rumah sakit (RS) dengan sarana kemoterapi, 507 unit RS dengan onkologi board, dan 35 RS dengan sarana radioterap
Data tersebut, jelas Mr x , belum termasuk fasilitas lain yang memenuhi prasyarat standar pelayanan minimal dalam bidang kesehatan seperti rumah singgah yang di butuhkan.
Terkait keberadaan rumah singgah dalam rangkaian layanan kesehatan, menurut Mr.x harus diperhatikan aspek legalistik dan menyasar kelompok paling rentan.
Pola umum pengelolaan rumah singgah di provinsi Riau kota Pekanbaru, biasanya dilakukan komunitas dan swasta, tidak ada kesinambungan dalam mencapai tujuan layanan untuk masyarakat yang sangat membutuhkan.
Agar pengelolaan rumah singgah berkelanjutan, jelas Mr x harus ada pengakuan dengan mengupayakan status hukum pengelolanya.
Bila pengelola rumah singgah sudah memiliki payung hukum, tegas Mr x , akan lebih mudah mencari dana, mewakili sekelompok orang untuk memperjuangkan hak dan kepentingannya kepada para pemangku kebijakan.
Selain kekuatan hukum, ujar dia, pengelolaan rumah singgah juga membutuhkan sumber daya baik manusia, finansial dan infrastruktur.
Tidak kalah penting, tambah Zulkifli sebagai pengelola yayasan rumah singgah , memiliki jejaring antarsesama pengelola rumah singgah dan sejumlah pihak untuk mendapatkan dukungan dalam setiap upaya menjawab tantangan.
Ahli Onkologi Rumah Sakit , Mr x berpendapat, kanker merupakan penyakit yang sangat khusus, karena dampak terhadap penderitanya sangat berat.
Menurut mr.x , keberadaan rumah singgah sangat penting. Apalagi, jelasnya, dengan bantuan biaya pengobatan dari BPJS saat ini pasien kanker di RS Ken Saras semakin banyak.
Upaya pengobatan radioterapi dan kemoterapi, jelas dia, sangat membutuhkan keberadaan rumah singgah bagi pasien yang menjalaninya.
Pengelola Rumah Singgah Zulkifli , Mr.x mengungkapkan rumah singgah bagi masyarakat itu seperti pelabuhan bagi orang yang terombang-ambing gelombang dan tempat interaksi antara penghuninya.
Menurut mr.x , rumah singgah harus mampu memberi harapan. Apalagi, ujar dia, BPJS tidak membiayai transportasi, konsumsi, dan akomodasi.
Diakui Mr z , rumah singgah di Indonesia belum menjadi pusat perhatian negara, berbeda dengan penanganan bencana yang sudah ada BPBD yang menanganinya.
Menurut Mr x , hambatan jauhnya jarak antara tempat tinggalnya dengan rumah sakit membuat keberadaan rumah singgah menjadi penting.
Sehingga perlu penanganan yang lebih menyeluruh untuk memenuhi kebutuhan para anak penderita kanker itu.
Sementara itu , Tegas ketua cbcpos.com Frans chaverius.sh.mh.cirp.cfl pada kesempatan yang sama juga menyarankan adanya pandangan pemerintah daerah kabupaten Meranti dan provinsi Riau dengan melibatkan partisipasi BUMD dan swasta, setidaknya untuk mendukung ada nya yayasan yang ada saat ini di kota Pekanbaru
